Ingat Kamu

Aku mau makan…ku ingat kamu

Aku mau tidur juga, ku ingat kamu

Aku mau pergi…ku ingat kamu

Oh cinta…mengapa semua serba kamu

            Aku sedang bingung…ku ingat kamu

            Aku sedang sedih juga ku ingat kamu

            Aku sedang bosan…ku ingat kamu

            Oh cinta..inikah bila ku jatuh, ku jatuh cinta.

(Song by Maia)

Aku mau makan…ku ingat kamu

Aku mau tidur juga, ku ingat kamu

Aku mau pergi…ku ingat kamu

Oh cinta…mengapa semua serba kamu

            Aku sedang bingung…ku ingat kamu

            Aku sedang sedih juga ku ingat kamu

            Aku sedang bosan…ku ingat kamu

            Oh cinta..inikah bila ku jatuh, ku jatuh cinta.

(Song by Maia)

Mungkin bagi sebagian anak muda yang gemar dengan dunia permusikan, lagu di atas sudah sangat familier sekali. Lagu yang menggambarkan seseorang yang sedang kebingungan dengan apa yang sedang dia rasakan. Apa saja yang dia lakukan selalu saja ingat dengan sang pujaan hati. How about you?

Itulah cinta. Sebuah rasa yang mempunyai kekuatan dasyat bagi kehidupan manusia di muka bumi ini. Cinta dapat memenuhi seluruh ruang dalam pikirian manusia. Cinta juga memiliki daya dorong yang luar biasa untuk melakukan hal-hal yang (mungkin) bagi sebagian orang memalukan atau sesuatu hal yang mustahil.

Namun… sebenarnya untuk siapakah cinta kita ini? Cinta hakiki kita persembahkan kepada siapa? Tentunya, kepada Sang Khalik, Sang Pencipta jagad raya yang tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa. Yang Maha Mengetahui segala isi hati manusia. Yang Maha Melihat setiap gerak langkah dan tingkah polah seluruh makhluk di alam semesta ini.

Tapi sayangnya, keadaan justru berbalik 180 derajat. Karena sifat manusia, banyak lupa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dapat terlihat jelas dari lirik lagu di atas. Sangat jelas menggambarkan sifat manusia yang (maaf, bukannya menilai pencipta lagu ini sebagai orang yang lupa kepada Tuhan, tapi memang lagu ini menggambarkan keadaan manusia secara umum-bahkan termasuk penulis sekalipun) acap kali terperdaya syetan, sehingga lupa kepada Allah SWT.

Kita baca pada diri kita. Ketika makan, seringkali lupa untuk berdoa. Kita lupa untuk memulai makan dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Padahal doa itu sangat pendek sekali. Bahkan, bisa jadi kita sudah hafal semenjak kita belum sekolah. Terlebih lagi ketika rasa lapar itu menyerang, kemudian hidangan sudah tersedia, favorit kita pula, tentu saja sebagian dari kita langsung aja serbu hidangan tersebut. Tidak peduli, doa atau ngga’. 

Ketika mau tidur juga demikian. Jangankan suwu’ seperti yang dituntunkan Rasulullah SAW, membaca ”Bismikallohumma ahya wa bismika amuut” saja seringkali tidak kita lakukan. Apalagi ketika kondisi terlalu lelah karena kerja keras seharian. Namun, yang terjadi di lapangan, kebanyakan bukan karena kondisi lelah, tetapi tidur karena “tidak disengaja”. Coba kita tengok diri kita, seberapa sering kita meninggalkan pesawat TV kita menyala, sementara kita tidur dengan pulasnya? Sehingga hal terakhir sebelum kita tidur bukannya doa, tetapi siaran TV yang kita tonton. Dengan kata lain, sebelum tidur kita tidak mengucapkan kalimah toyibah tetapi malah kalimah bubrah.

Mau pergi pun demikian. Dalam keadaan santai saja, seringkali kita lupa untuk ingat kepada Allah, apalagi ketika terburu-buru. Pada saat tergesa-gesa, kita sudah tidak peduli lagi dengan kaki apa kita keluar, mendahulukan kaki apa pada saat memakai sepatu, doa mau pergi dan membaca kendaraan, dan lain-lain. Kita kalah dengan orang-orang barat yang memiliki budaya untuk selalu membaca “doa” sebelum bepergian.

Begitu pula dengan perasaan kita. Entah itu sedang bingung, sedang sedih atau sedang bosan, siapa yang kita ingat? Mungkin yang kita ingat adalah orang-orang yang kita sayangi, orang-orang terdekat kita. Padahal dengan penuh cinta Allah memberitahukan kepada kita “…Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hatimu menjadi tentram” (QS. Ra’ad (13): 28). Untuk perasaan sedih dan sebangsanya mungkin ada kemungkinan bagi kita untuk ingat Sang Ilahi, tapi bagaimana dengan pada saat kita senang? Ada ucap syukur Alhamdulillah kah?

Dengan ini, saya selaku pribadi, meminta ijin kepada pencipta lagu ini untuk sedikit menggubah syairnya agar para musik mania terutama penulis selalu ingat kepada Allah, sekaligus ucapan terima kasih yang tak terhingga karena lagu ini, selain menginspirasi terjadinya tulisan ini, juga mengingatkan bagi kita semua untuk tidak Ingat Kamu lagi tetapi Ingat Allah.

Mungkin, ada baiknya jika syair lagu itu kita gubah seperti berikut ini:

Aku mau makan…ku ingat Allah

Aku mau tidur, juga ingat Allah

Aku mau pergi…ku ingat Allah

Oh cinta…semua serba Allah

            Aku sedang bingung…ku ingat Allah

            Aku sedang sedih, pasti ingat Allah

            Aku sedang bosan…ku ingat Allah

            Oh cinta, nikmat bila ku ingat, ingat Allah

(Dikarenakan keterbatasan ilmu dan sempitnya sudut pandang yang penulis miliki, maka kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan kualitas tulisan pada masa-masa yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.